Basa Basi #10 : Curhat Sok Bener

Dicomot dari blognya Wiwiamd

Dilarang Baper



Senja, segelas kopi dan alunan musik.

Saya selalu menikmati senja seperti ini. Duduk di luar rumah, atau paling tidak di dalam rumah, membiarkan jendela terbuka untuk memberikan indahnya lembayung kemerahan yang menerobos. Kadang saya pergi menonton pertandingan bola voli, kadang juga pergi ke beberapa tempat yang menarik.

Saya selalu membiarkan tubuh saya rileks seperti apa yang diinginkan. Jika stress, saya pergi menyeduh kopi, membeli keripik, atau menonton film. Saya lebih sering sakit pikiran dibandingkan dengan fisik, perbandingan antara flu dan tekanan pikiran saya mungkin 1:3.
Saya pernah menikmati sebatang rokok, tapi memerlukan waktu untuk bisa menemukan dimana letak nikmatnya. Anak-anak yang saya lihat kebanyakan menikmati rokok karena kecanduan, atau karena memang ingin gaya-gayaan, dipadukan dengan gaya remaja mereka yang terlampau absurd. Motor warna-warni, knalpot bising dan balapan liar di jalanan.

Tapi rokok memang berbahaya. Sudah bisa dirasakan pada hisapan pertama, akan ada rasa sesak di tenggorokan, artinya memang menyakiti keadaan tubuh. Akhirnya saya hanya bisa menghabiskan satu batang untuk beberapa bulan lamanya. Saya akan merokok jika ada masalah yang terlampau besar dan membebani pikiran, karena rokok melegakan pikiran dan menyehatkan jiwa, namun menyakiti fisik.

Ayah saya perokok berat, menghabiskan banyak sekali rokok dalam kehidupannya yang sudah lewat setengah abad. Bagi saya tak masalah, begitu pula dengan kakak saya yang hobinya merokok setiap hari. Karena mereka melakukannya dengan kesadaran dan tanggung jawab, mereka menggunakan rokok untuk menyehatkan mental mereka.

Banyak juga orang yang minum-minum untuk melepas stress. Saya punya kenalan, seorang kawan mempunyai bapak peminum, minum-minum anggur dan jack Daniel, mabuk-mabukan. Tapi dia tahu jika bapaknya seorang pekerja keras, dan untuk menjaga mentalnya tetap sehat dia merelakan tubuhnya menjadi korban.

Memang begitu. Kebanyakan orang menyehatkan mental mereka dengan mengikis sedikit demi sedikit fisik mereka, dan orang yang menyehatkan fisik mereka biasanya gampang stress—jika tak bisa ‘menyehatkan’ mental mereka.

Untuk menjaga pikiran saya tetap prima, saya biasanya minum kopi, dan dengan kafein itu seolah ada sugesti, seolah saya akan hidup tenang jika ada kafein. Tapi itu semua tampaknya hanya sugesti saja. Namun saya tak mempermasalahkannya, karena memang dengan adanya ‘penyehat’ mental ini bisa menjaga pikiran kita tetap bugar.

*

Saya pernah dalam satu hari berjalan-jalan kesana kemari ngebut naik motor, pergi ke beberapa tempat ramai dan tempat sepi. Hari itu saya bak orang gila, datang ke suatu tempat, diam mengamati seperti seorang maling, kemudian pergi ke tempat lain dan melakukan hal yang sama.

Saya mencari perbedaan ritme kehidupan. Ada yang tergesa-gesa, ada yang santai, romantis hingga kelam. Saya pergi ke sebuah daerah yang asri, sepi, dan memiliki pemandangan indah. Ada beberapa remaja yang sedang pacaran di masa puber mereka, menikmati kesunyian dengan berduaan. Ada yang diam saja memandang alam sambil berpegangan tangan, ada yang sibuk dengan gawai masing-masing, hingga yang berciuman di depan umum.

Kemudian saya pergi ke lapangan volley, sebuah turnamen menjelas 17 Agustus kejuaraan volley antar dusun. Sebetulnya saya melihat ke dua tempat, satu di kampung saya sendiri, satu lagi tempatnya agak jauh, sekitar 4/5km dari rumah. Dari hasil saya menonton, saya bisa merasakan jika ada hal yang tak bisa dirasakan dengan kesendirian. Rasa kebersamaan dan rasa gembira yang berlainan dengan rasa gembira biasa.

Penonton bersorak saat tim andalan mereka mencetak poin, ada yang bertepuk tangan, ada yang berteriak member semangat, ada juga yang merekam sambil diam-diam menunjukkan ekspresi gembira. Anak-anak hingga dewasa menonton, menikmati kebahagiaan yang mungkin saja tak bisa mereka dapatkan esok hari.

Saya yang tak mengerti soal olahraga pun akhirnya bersorak gembira saat melihat indahnya pantulan bola dan teriakkan gembira dari para supporter. Rasa seperti ini yang seharusnya dikembangkan dan ‘dianut’ oleh setiap manusia di muka bumi, rasa kebersamaan. Jika dunia sekarang tidak damai, berarti hidup mereka memang belum pernah mendapatkan kebahagiaan.

Kemudian suatu hari, waktu itu masih SMP. Sebelum ujian biasanya ada pelajaran tambahan, dan biasanya berlangsung dari akhir KBM hingga sore hari. Karena waktu SMP saya lebih senang untuk berbaur dengan mereka yang ‘nakal’ akhirnya waktu itu semua laki-laki satu kelas pulang dan pergi dari sekolah. Alhasil hari senin kami dimarahi habis-habisan.

Tapi ada rasa yang tak bisa dirasakan dengan kegiatan lain. Rasa tertantang, dimana waktu itu saya rasakan betapa indahnya masa muda. Kita bisa melakukan hal apa yang kita mau, masa muda saya dihabiskan untuk melakukan apa yang ingin dilakukan dan membenci apa yang ingin saya benci.

Jika dulu saya lebih sering nakal dan melakukan hal yang terlihat oleh orang, maka sekarang saya lebih suka membangkang dengan hal lain. Dulu saya merokok, kabur dari sekolah, jahil, membajak sosial media atau melakukan hal-hal lain. Sekarang saya lebih suka membangkang aturan-aturan dalam berpikir dan menulis, jujur saja saya ingin mendobrak hal-hal yang mengekang kebebasan masa muda saya.

Seperti kata orang, masa muda ialah dimana seseorang ingin menonjolkan dirinya, membuat ciri khas sendiri, ingin diakui orang dan biasanya ingin mencoba hal baru. Maka saya melakukannya dalam jalur ‘halus’ namun tetap saja mematikan.

Saya pernah melakukan ‘debat halus’ dengan guru saya, waktu itu saya terus menentang apa yang dikatakannya karena memang beliau sangat berhati-hati dan berpedoman pada aturan berpikir manusia, termasuk hal mana yang boleh manusia ketahui dan hal mana yang hanya Tuhan yang boleh ketahui. Waktu itu saya memang keras kepala, ingin menang sendiri, akhirnya saya merasa tertantang dan meneruskan agar saya bisa menang, tapi debat itu takkan ada akhirnya. Karena kami berdua punya cara berbeda dalam berdebat, saya ingin semua memakai logika dan tak ada batasan berpikir, guru saya yang tentunya lebih bijak tahu kalau tak semua hal bisa dijelaskan dengan logika, maka debat itu takkan pernah selesai kapan pun. Tapi sekarang sudah gencatan senjata—wakakak—berhubung saya merasa kurang enak jika menentang seseorang yang mati-matian memberikan ilmu pada saya.

Walau kini saya sudah jarang berhubungan lagi—apalagi setelah saya menutup sosial media saya—tapi semua hal itu masih tetap bertentangan sampai saat ini. Beliau orang agama yang taat, sedangkan saya pemuda pembangkang yang selalu ingin kritis. Well, tapi saya kira suatu hari kami akan bertemu dalam pemikiran yang sama, walau mungkin hanya dalam beberapa aspek saja.

Saya punya banyak kawan dengan gaya berbeda-beda.

Seorang kawan jahilnya luar biasa, seorang yang hobi membuat anak perempuan di kelas menangis dijahili, seorang yang nakal dan membuat banyak guru mengecapnya sebagai anak ternakal sekelas. Kawan saya itu tengah menikmati masa mudanya, menentang aturan-aturan tatakrama dan sopan santun, ingin diperhatikan dan punya gaya sendiri.

Ada juga seorang kawan, seorang anak geng motor. Knalpot motornya memekakkan telinga, warna motornya entah apa, pelangi dicampur-campur. Setiap kali saya bertemu, dia selalu menaikkan gas motornya, memaksa saya untuk menutup kuping, dia sendiri tertawa bergelak. Dia ingin membuktikan jika standar-standar untuk motor itu terlalu monoton, kemudian dengan kreativitas masa mudanya, dia membuat semua hal yang standar menjadi sesuatu yang lain.

Kemudian ada kawan wanita, anaknya cantik dan manis, namun genit sekaligus nakal. Pernah sama-sama bolos sekolah, perokok, dan juga seorang yang gemar kebut-kebutan di trek drag sejauh 201 m. Dia ingin dunia tahu jika cap nakal bukan hanya untuk laki-laki, dia ingin semua orang tahu kalau dirinya adalah seorang yang berani melanggar standar.
Sebenarnya masih banyak kawan dengan gaya yang berbeda, ada yang hobi minum-minum setiap malam, ada yang hobi olahraga, hingga pemburu wanita. Semua kawan saya memiliki gaya yang berbeda. Bahkan kawan saya yang seorang pendiam juga memiliki ciri khasnya sendiri, dia menentang arus, ketika anak-anak lain suka musik rock, dia sendiri suka lagu india dan girl band, kemudian dengan tak segan memamerkan kemampuannya menari ala shahruk khan.

Semua remaja dalam kehidupan saya serba menawan dalam kehidupannya. Ada juga seorang kawan wanita yang taat agamanya, suka berkawan dengan siapapun, dan juga cerdas memiliki keinginan untuk melawan arus dan membuktikan masa mudanya. Dia menentang aturan baku, memakai tudung kemanapun ia mau. Bahkan saat kami main bersama, kawan-kawan wanita lain tak memakai jilbab dan memakai rok mini, dia sendiri melawan arus dengan memakai jilbab dan berpakaian sopan.

Semua orang punya ciri khas, tapi kita tak bisa menilai. Apa yang kita sebut jelek belum tentu hal itu jelek, karena semua orang punya dunia dan gayanya sendiri.

*

Sejak kecil, seolah saya sudah diarahkan untuk menjadi seorang yang berimajinasi tinggi, atau mungkin sebagai penulis. Waktu SD, almarhum kakek selalu memberikan saya puluhan buku untuk dibaca, kebanyakan majalah tahun 70-90an—majalah Mangle. Sejak saat itu saya mulai suka membaca, berawal dari membaca cerita-cerita yang hanya beberapa paragraf hingga akhirnya saya kecanduan.

Kalau nggak salah buku diatas seratus halaman pertama yang saya tamatkan adalah Adventure of Sherlock Holmes karya Conan Doyle, buku itu berisi 200 halaman lebih, membuatnya tampak seperti kamus dibandingkan novel. Buku itu saya baca kurang lebih saat saya kelas 4/5 SD, sebetulnya itu buku kakak saya yang nggak sengaja terbaca, dan akhirnya keterusan.

Dalam darah saya, mengalir berbagai genre sehingga saya sekarang jadi lebih suka banyak genre yang berbeda juga. Pertama, kakek adalah seorang penggemar Cerita Wayang seperti ayah, tapi kakek pengetahuannya lebih luas, mulai dari awal pembersihan kurusetra untuk dijadikan ajang bertarung hingga beliau tahu nama-nama senjata wayang hingga kisah-kisah sampingan seperti Dewa Ruci.

Sekarang saya jadi suka dengan wayang, bahkan saya mengidolakan beberapa dalang. Pertama Sudjiwo Tedjo, seorang budayawan sekaligus dalang wayang kulit. Kedua Ki Manteb Soedarshono, dalang wayang kulit. Ketiga Alm. Asep Sunandar—yang ini adalah dalang yang membantu saya memahami Ramayana dengan ditampilkannya lakon Rahwana Pejah. Keempat adalah Yanusa Nugroho, pernah jadi dalang katanya, tapi juga seorang sastrawan yang bukunya berkisah tentang wayang.

Ayah saya seorang penggemar cerita silat. Kecintaannya terhadap cerita silat mengalir dalam tubuh saya, sehingga waktu kelas 5 SD saya berhasil membaca tamat 185 novel Wiro Sableng—dan itu minjem ke kawannya bapak, mungkin waktu itu sekitar 2 bulan menamatkan hampir 200 novel itu—wkwkwwk…

Saya juga menemukan beberapa komik silat bekas ayah muda, seperti Jalak Siluman dan seri Dendam Seorang Ksatria. Akhirnya ini juga mengantarkan saya mencintai cerita silat. Hingga sekarang saya masih berburu cerita silat, banyak buku yang pernah saya baca seperti Boma Gendeng, Lonceng Dewa, Pendekar Binal, dan komik silat seperti Feng Shen Ji atau Tapak Sakti.

Sedangkan kakak saya juga menyukai cerita silat, selain itu sangat mencintai novel misteri dan detektif. Kakak juga yang mengenalkan saya pada novel-novel seperti seri detektif Hercule Poirot-nya Agatha Christie, Sherlock Holmes hingga Dan Brown.

Semua laki-laki dalam keluarga saya hobinya membaca, mulai dari kakek dari bapak dan kakek dari ibu. Kalau kakek dari bapak suka dengan buku dongeng, kakek dari ibu suka dengan wayang dan sastra—dalam artian sastra Sunda. Hal yang bisa saya kenang dengan almarhum kakek adalah ketika saya membawa buku dari perpustakaan SD ke rumah, kemudian diberikan pada kakek , biasanya beliau senang.

Kemudian beliau menikmati harinya dengan buku. Waktu itu kakek sakit kalau berjalan, sehingga hanya bisa duduk selonjoran di kursi, saya sendiri senang tiduran di atas kakinya. Kakek senang jika saya membawa buku dari perpustaaan, dia akan ikut membaca, kemudian sepanjang hari membaca, ketika malam mendengarkan radio, walau saat itu kami sudah punya tv, tapi kakek masih senang mendengarkan siaran radio.

Ayah saya seorang yang berpikiran terbuka dan logis. Beliau lebih suka memaparkan sesuatu dengan logika dibandingkan ibu saya yang selalu marah sambil teriak tidak tahu. Ayah selalu menasehati dengan alasan yang kuat.

Saat saya bertanya soal rokok, ayah bilang saya boleh merokok jika sudah punya uang sendiri. Saat saya bertanya soal minuman, ayah bicara kalau minum miras pabrikan itu nggak akan separah minum oplosan, karena miras pabrikan sudah memenuhi standard an efek sampingnya nggak akan se-parah jika minum oplosan. Ayah mewanti-wanti saya agar tidak minum oplosan, karena banyak yang mati karena oplosan, kemudian beliau memaparkan bukan hanya gengsi, tapi juga keselamatan, bukan perkara gengsi jika kita beli Jack Daniels dibanding oplosan satu liter 20 ribuan.

“Anggur itu kan menyehatkan, tapi bukan untuk diminum sekaligus.” Kata ayah saya.
Akhirnya dengan rasa penasaran dalam suatu ketika saya berkumpul dengan kawan-kawan, membakar ayam, tak lupa mereka membeli anggur, kalau nggak salah cap orang tua. Dengan penasaran, saya membaca tulisan di botol anggur, di sana tertulis dikonsumsi maksimal lima sendok makan per hari.

*

Suatu ketika, saya pergi ke alun-alun pada bulan ramadhan. Pedagang makanan ada di setiap sudut, dan banyak juga penguunjung karena waktu itu ada pentas band ngabuburit. Ada satu hal yang membuat saya tertarik waktu itu.

Saya merasa berada di rumah pelacuran, dimana-mana saya melihat gadis-gadis berjilbab, dengan baju ketat dan jeans ketat. Tak munafik, saya senang melihat hal itu, saya merasa surga dan neraka itu memang tak ada. Tak ada batasan-batasan lagi sekarang, dimana-mana saya bisa menikmati pemandangan gadis-gadis dengan belahan dada terbuka.

Semua saya anggap tak lebih dari penjaja harga diri. Saya kira mereka tak perlu beragama, karena agama tidak mengajarkan untuk berpenampilan bak pelacur di keramaian. Ketika ada kasus pemerkosaan, baru mereka pada teriak “HAM!”

Siapa suruh penampilan bak pelacur, situ kira semesta ini rumah bordir?
Dengan menggunakan logika saja—tanpa ada campur tangan agama dan moral—saya bisa menyimpulkan kalau apa yang mereka lakukan itu bodohnya luar biasa, karena bisa mengundang kejahatan. Bagaimana jika tiba-tiba seseorang naik syahwatnya, lantas memperkosa.

Saya senang dengan hal seperti itu, karena saya merasa dimana-mana adalah pelacuran, dimana-mana penari strip hadir, dimana-mana manusia menjajakan tubuh. Ah, saya terlalu muda untuk membahas itu, biarkan mereka berkembang biak di atas muka bumi.

Saya hanya ingin menikmati tegukan terakhir kopi hitam, usai itu, malam semakin larut. Kambing mengembik, katanya ini tanggal 72, saya tak percaya karena ada kertas yang dibakar dengan menggunakan lilin, tintanya berubah menjadi abu.
Ciamis

7/8/17

Komentar

Postingan Populer