Coretan Gak Pake Otak #1


Tulisan Ini tidak cocok untuk penderita gampang terangsang oleh sarkas, sindiran atau anda yang sering orgasme tiba-tiba saat merasa tersinggung. Kedewasaan umur tidak berarti kedewasaan berpikir, minimal anda sudah tahu bahwa indomie merupakan kebenaran bagi umat manusia, maka anda boleh melanjutkan membaca.

Penulis tidak bertanggung jawab atas ledakan emosi, kemarahan jiwa, kebelet boker, migraine parah, atau sakit hati.



4:35 pagi

Biasanya, pagi hari atau dinihari saya lebih sering mendapat wahyu, kesurupan imajinasi atau sering tiba-tiba bak ada bola lampu yang berpijar dalam kepala.

Akhir-akhir ini saya memang lebih banyak mendapatkan inspirasi, selain karena saya menjadi lebih suka menggambar juga karena saya lebih sering browsing, entah itu mencari resep masakan atau sekedar melihat-lihat ide menggambar.

*

Manusia, pada dasarnya merupakan mahluk yang lemah. Manusia hanyalah telur kutu yang tak berdaya tergeletak diantara rerimbunan semesta. Maka dari itu manusia memeluk kepercayaan. Sejak dahulu manusia merasa lemah, manusia merasa masih bisa dikalahkan oleh mamooth, mereka minta restu dari leluhur dan totem untuk memberikan kekuatan pada raga dan jiwa. Kemudian manusia merasa lebih lemah, merasa jika gunung lebih hebat, maka dipujalah dewa penjaga gunung.

Tak cukup hanya gunung, manusia merasa mereka hanyalah butiran debu, dipujalah Maha Kuasa di semesta ini. Terus berlanjut, bercabang dan berevolusi seiring berkembangnya zaman, atau bahkan akan bertahan selama masih banyak orang yang berada dalam bayang-bayang penindasan atau tak cukup kuasa untuk mencari makan.

Tapi di zaman sekarang, sesembahan itu bukanlah suatu hal yang sakral lagi, sesembahan bagi manusia di zaman edan ini tak lebih dari senjata, dicabut dari sarungnya, dicabut dari hakikatnya sebagai pelindung semesta menjadi perusak semesta. Sesembahan mereka dibawa, diseret ke jalan untuk kemudian mereka jadikan sebagai pengganti mesiu, mereka sembah di jalanan, di bawa langit yang penuh sesak oleh asap knalpot dan kembang api.

Lantas apakah di zaman ini manusia tidak perlu Sesembahan lagi? Tidak juga. Manusia tanpa merasa lemah akan merasa tinggi, merasa sombong, lupa akan kemiskinannya sebelum ia kaya. Tapi manusia dengan rasa lemah juga akan menjadikan dirinya merasa selalu dizolimi, merasa dirinya selalu dikriminalisasi, entah itu oleh pemerintah, oleh tukang cilok yang memberikan bumbu lebih sedikit kepadanya, atau kepada asap knalpot racing yang lebih terdengar memekakkan telinga untuk telinganya.

Maka, jadilah manusia yang merasa lemah dibanding kemegahan semesta, kemudian jadilah manusia kuat yang lebih tinggi dari binatang. Karena manusia di zaman ini aneh-aneh semua, mereka disebut berada dalam silsilah keluarga binatang alias kingdom animalia dengan spesies homo sapiens tidak mau, tapi kelakuan masih seperti binatang.
Lihat saja kucing, kawin seenaknya, di kebun, di rerumputan, dibawah pohon singkong, kemudian beranak juga dimana mereka mau.

*

Selain saya, manusia di dunia ini kafir semua, karena ajaran yang didirikan oleh saya hanyalah satu-satunya kebenaran. 

Tuh, kan saya juga bisa ngomong begitu, tapi bedanya, kalau saya yang ngomong, bakalan disebutkan sebagai penistaan, ujaran kebencian, atau disebut nyinyir. Kalau mereka yang ngomong, mereka sudah pasti benar!

Ini juga yang membuat saya sempat bingung. Di jalanan orang dilempar bongkahan batu karena tak seiman, di kebun dikampak orang karena beda aliran, dan mungkin hanya di ranjang semuanya akan berakhir bahagia dan damai. Nah, apakah kualitas ‘ranjang-time’ masyarakat Indonesia cenderung rendah sehingga menyebabkan permusuhan terjadi dimana-mana?

Lho, pemerintah berusaha menutup semua layanan ponrografi, sementara tulisan-tulisan keji di sosial media masih bebas berkeliaran. Ini sebuah ketidak-seimbangan yang menyebabkan timbulnya kebencian. Karena survey membuktikan, ketika anda membuka situs-situs dewasa, anda tak akan pernah marah, anda tak akan pernah bilang ‘wah ini artisnya beda Tuhan!’ atau ‘Ini artisnya beda partai’ kan nggak mungkin.

Nah, maka dari itu wajar jika saya mengatakan situs-situs dewasa ini merupakan pupuk bagi kebahagiaan masyarakat. Lihat saja negara-negara dengan kualitas internet yang lebih buruk dari Indonesia, Korut contohnya. Memangnya kamu pikir bisa dengan bebas berzina mata ria sambil sambungan internetmu diawas si Jong-Un yang ketawa-ketiwi sambil makan keripik kentang.

Ingat, apa yang sempat meredam isu-isu panas beberapa waktu lalu?

Hanna Anissa, Ria from Bali, dan masih banyak lagi.

Bahkan, jika saya pikirkan dengan mata yang sudah mengantuk berat dan kepala hampir tak bisa lagi dipakai merangkai kata ini, orang-orang yang gampang sange alias mudah terangsang urusan selangkangan lebih ‘jinak’ daripada orang-oranng yang mudah terangsang kebenaran. Coba saja, orang yang lagi pengen tinggal memerlukan bahan-bahan sederhana untuk memulai proses ranjang-time solo mereka, atau bisa mengunjungi lokalisasi yang kini bertebaran walau sudah ditertibkan.

Nah, coba untuk orang yang hanya terangsang dan orgasme oleh kebenaran. Mau dicari kebenaran kemana? Mau mastrubasi iman? Bikin statement di facebook seolah bertanya tapi kemudian ia sudah sediakan jawaban sekaligus argument untuk memuaskan hasratnya akan kebenaran.

Makanya dari dulu saya tidak percaya dengan kebenaran, kecuali fakta jika indomie memang lebih lezat dibanding mie sedap atau fakta jika internet adalah zat adiktif yang lebih parah dari narkoba jenis apapun.

Banyak orang yang hypersex, dan hanya terangsang oleh kebenaran nyatanya malah lebih merugikan, mereka berorasi di jalanan, berteriak kami benar kalian salah. Mereka mendeklarasikan perang sambil bilang ini kebenaran, atau mereka bikin statement kontlopelersial di twitter atau facebook, bikin tulisan yang ngebait orang biar diretweet, dan menjadi terkenal dalam semalam. Besoknya diciduk polisi dia bilang akun saya diretas oleh tukang martabak ketika saya sedang membeli jajanan cilok di ujung gang yang sepi nan sunyi.

Jadi begitulah, bahwa asap yang akan anda hisap dari bong tentunya akan melewati filter air terlebih dahulu, walau sebenarnya fungsi bong di Indonesia terbilang minim, hanya untuk menghisap tembakau kering sepuluh ribu tiga bungkus atau untuk sekedar gaya-gayaan dan dijadikan postingan instagram dengan hashtag IamSmoker.

Saya sudah mengantuk, ini pukul 5:10

Well, have a nice dream!

Komentar

Postingan Populer